Sabtu, 16 Desember 2017

A few notes in the middle of last month in 2017

Maybe this is the suck condition, they can't do confession that they had been part of those sh*t group. Honestly, I can't wait for the final episode this drama. yes, the drama of life. My life is like soap opera for a while since I have decided to stay in my hometown. I think it will be good vibes to strengthen my student's life but it brought some troubles come back to my life. Yah this year is full of shi*t happen. 


Selasa, 31 Oktober 2017

PRESENCE

Pernah enggak lo ngerasa bahwa seseorang yang ada di lingkaran terdekat lo secara fisik tapi lo gak pernah ngerasa dia benar-benar 'ada'? Atau justru saat ini lo yang ngerasa ada di posisi itu? Buat gue hantu  bahkan Tuhan aja keberadaannya kita rasakan, kalo sampai ada orang yang keberadaannya tidak kita rasakan berarti ada yang salah. Ya entah dengan perasaan dan hidup kita atau dengan orang yang bersangkutan.
Tapi pernah gak justru saking lamanya keberadaan orang itu tidak kita rasakan, tiba-tiba ketika ia ada seakan-akan kita merasa 'agak maksa' gitu?

Itulah yang namanya keberadaan yang sering disebut presence. Presence is  about our feel that somebody still exist. Ya, itu yang gue alami. Gue gak menyadari keberadaan orang-orang yang secara fisik hadir di sekeliling gue, tapi gue justru menyadari keberadaan 'mereka'. Mereka yang hanya bisa membohongi gue lewat suara dan menipu gue lewat suara orang-orang disekeliling gue yang akhirnya membuat gue gak sadar kalau gue sedang meniadakan kesadaran gue tentang keberadaan fisik teman-teman gue, orang tua gue, dsb.

Gue sedih dengan itu semua, gue kehilangan banyak hal, kesempatan, teman baru, orang-orang yang gue sayang yang setia nemenin gue. Gue sengaja nulis kekecewaan ini karena gue perlu nulis. Ini sulit untuk dibicarakan, ini sulit untuk dimengerti tapi ini sangat terasa menyakitkan. Dan jalan keluar yang paling manjur adalah dengan menulisnya.

Gue punya cerita kedua, ikatan darah tidak selalu mempunyai korelasi dengan kehadiran seseorang. Dan parahnya jika itu terjadi dalam jangka waktu yang lama akan membuat kita jadi resisten terhadap kehadiran orang tersebut sekalipun ada ikatan darah, ada hubungan saudara, etc. Pernah denger gak kalau karakter kita itu dibentuk dari kebiasan yang berulang-ulang? Sama halnya dengan yang gue bilang tadi. Berhati-hatilah untuk memilih kebiasaan mana yang akan kamu lakukan, karena itu akan menentukan karaktermu. Dan berhati-hatilah ketika kamu memilih untuk tidak menyadari keberadaan mereka yang secara fisik ada di sekitarmu.

Disini gue gak mau nyalahin faktor lain yang mungkin akan jadi faktor-faktor pendukung, karena memang hidup kadang bukan tentang mencari kesalahan sekalipun kita tidak bersalah.

-IDLE MODE-

Sabtu, 28 Oktober 2017

Kamu tahu?

Gue anak pertama perempuan dari dua orang bersaudara perempuan. Jarak lahir kami lima tahun. Jarak yang menurut beberapa orang terlalu jauh, tapi menurut mama itu ideal tapi menurut gue bodo amat, bisa punya kesempatan punya anak aja udah sujud syukur. Kami lahir dengan tidak ada kemiripan sama sekali, there are many difference things from both of us. Meskipun sejak adek gue lahir mama selalu berusaha untuk kasih barang yang sama atau paling enggak hampir sama atau paling enggak lagi identik lah untuk menghindari kesan dibedakan.

Adek gue sangat mbok-mboken waktu kecil, dimana ada mama selalu ada dia. Gue juga tapi setelah dia lahir semua berubah. Agak asing ketika pertama kali lihat dia dibawa pulang ke rumah setelah mama lahiran di rumah sakit. Bukan berarti gue gak nunggu-nunggu kelahirannya. Kami (gue dan papa) always ngobrol tentang adek yang saat itu masih dikandungan. Masih ingat betul poling pilihan nama yang akan kami berikan untuk adek yang bakal lahir itu. "TOTOT" itulah nama pilihan kami untuk adek kecil yang akan lahir, yang kami harapkan adalah laki-laki. Mama dan papa tahu sekali kalau gue pengen banget punya adek laki-laki bukan kenapa, karena saat itu mainan gue sama anak-anak cowok lebih gede. Jangan lo bayangin gue maen masak-masakan pake tools yang komplit, gue itu waktu kecil maen layangan tapi senarnya pendek. Jadi cuma bisa terbang kalo kita lari, kebayang gak lo?

Gue yakin sebenarnya mama dan papa sudah tau kalo adek gue itu sebenarnya perempuan tapi mungkin mereka gak mau bilang lebih awal supaya gue gak kecewa.  Baru setelah H+1 si adek lahir gue diceritain waktu sebelum berangkat ke sekolah kalau "adeknya perempuan sukanya ngemut jempol". Gue gak inget perasaan gue waktu itu tapi yang jelas saat sore hari tiba toh akhirnya gue nungguin si newborn baby ini pulang ke rumah. 

Layaknya tamu, begitu sampai di rumah mama dan adek baru ini lewat pintu depan yang biasa dilewatin tamu langsung menuju kamar belakang. Karena saking excitednya, gue langsung ngibrit ikut ke kamar untuk lihat kayak gimana sih mukanya si adek perempuan yang gak pernah gue bayangin ini (jujur, selama mama hamil yang gue bayangin, gue bakal punya adek laki). Impresi pertama kami tidak begitu gue ingat, karena dia masih molor dan gue kesenangan akhirnya mama di rumah juga, dan rumah jadi rame lagi.

Tapi sayangnya, si adek kecil ini bukanlah adek yang kuat fisiknya. Mungkin baru kali itu mama dibikin pusing keluar masuk rumah sakit karena anaknya opname. Ya baru kali itu karena selama gue kecil sampai umur sekolah seinget gue belum pernah sakit sampai dirawat di rumah sakit. Itu hanya karena berkat ASI eksklusif plus plus (terimakasih ASI). Sementara saat adek gue lahir, dia gak dapet jatah ASI yang cukup. Mungkin itu alasan daya tahan tubuhnya lemah. Hal itulah yang akhirnya membuat 'perawatan' kami dibedakan oleh papa. Gue sirik? yes! anak mana yang gak sirik kalo ngerasa dirinya dihajar kayak preman tapi yang satunya disayang? Ibarat lo punya dua keranjang, keranjang yang satu lo masukin sampah tapi yang satunya lo tanemin bunga. Gue akan cerita tentang kekejaman jaman jahiliah (jaman gue kecil) di lain waktu. Meskipun demikian, gue gak merasa sendiri karena mama gak kayak gitu sama gue tapi gue tumbuh dengan kepala batu dan ambekan (mungkin masih ada nyisa sampe sekarang). 

Waktu berlalu hingga akhirnya ada kejadian yang mukul kredibilitas gue sebagai seorang kakak. Umurnya mungkin sudah lima tahunan saat itu. Kebiasaan sore kami adalah maen sama temen seumuran di kompleks rumah. Kesukaan dia adalah permen fruitella, ada yang masih ingat anak 90-an??? dia nyebut tu permen dengan sebutan 'MENTEYA' untuk menyebut PERMEN FRUITELLA. Ada iklannya tuh "fruitellaaaaa...fruitella....fruit...fruit...fruitella...fruitelllaaaaaaaaa". Gue punya temen satu antar jemput sekolah tapi beda sekolah waktu SD yang rumahnya gak jauh dari rumah gue. Entah ada angin apa, sore itu dia naek sepeda dan adek gue perjalanan dari warung pulang beli permen. Hubungan dari dua frase ini dimana? Waktu adek gue sudah sampai berjarak dua meter dari rumah dengan posisi gue dan IRT berdiri di depan rumah menunggunya pulang, temen gue ini silau mungkin atau kelilipan matanya atau kenapa gue gak tau bisa nabrak adek gue yang sedang bergirang hati bawa permennya dari belakang (nyesek gue nulis bagian ini) di depan mata gue dan gue tahu prosesnya kayak gimana. Tapi telat bagi gue untuk terbang sejauh dua meter dan nyelametin dia. Gue cuma bisa teriak, panik dan lari karena langsung pecah tangisan si adek saat itu juga. Gue gak bisa marah, ya gue gak bisa marah . Gue tahu pelakunya siapa, gue kenal dia siapa, gue tahu rumahnya dimana, tapi yang gue pikirin "Papa mama pasti marah". Temen gue sudah bilang "maaf Mbak" dan gak gue tanggepin karena dia gak mungkin gue bawa sidang di depan MK (Mahkamah Keluarga) dan sampai sekarang keluarganya gak pernah datang ke rumah gue untuk sekedar minta maaf atas kejadian itu.

Setelah kejadian itu, janganlah tanya "dimarahin atau gak?" tapi bertanyalah "marah besar atau kecil?", gue gak terlalu inget proses 'persidangan' kala itu tapi yang jelas badan dan hati gue ngerasa sakit, karena gue saksi hidup tapi gue juga ditetapkan jadi tersangka untuk KTD (Kejadian Tak Diinginkan) itu dan gue harus menanggung dengan 'cap tersangka' di badan gue dengan dakwaan "kamu gak bisa jaga adek". Gue masih inget banget kata-kata itu. Tapi bukan berati itu kata-kata yang salah. Saat itu umur gue masih sepuluh tahun tapi gue berketetapan hati untuk bisa jadi kakak yang baik, meskipun gue gak tau jadi kakak yang baik itu kayak gimana.

Kamu anak yang ditunggu-tunggu sejak sebelum kamu lahir. Yang menantikanmu gak cuma ibu dan bapak (yang akhirnya kau ganti sebutan itu menjadi mama dan papa tapi aku rela) tapi akupun sangat menantikan mu. Selalu dapet souvenir ulang tahun dari sekolah minggu barengan karena lahir di bulan yang berdekatan. Seinget gue kita jarang berantem, tapi sering gosip bareng begitu kita berantem yang ada kita diem-dieman sampe ada yang buka pembicaraan duluan. Aku gak minta kamu inget semua peristiwa yang aku ceritain di atas. Tapi aku pengen kamu tahu bahwa cerita kita dimulai dari jauh sebelum kamu lahir.

Kalau saat ini gue lebih milih untuk diam terhadap siapapun termasuk dirimu. Itu pilihan gue, bukan karena gue gak sayang keluarga. Tapi semakin kita dewasa hidup ini semakin berubah, ya itulah hidup. Dan diam adalah bentuk ketidaknyamanan gue untuk menanggapi ketidaknyamanan hidup saat ini.

IDLE MODE

Selasa, 15 Agustus 2017

Driving Me In Craziness of Life

I won't say that you should recognize every single thing I did, especially in this 1 year. Ya, tahun ini tahun yang super duper 9q59wtoywoetywe7top8!!!!!!  Ibarat sariawan, sariawan yang gue alami ini udah enggak spot kecil lagi,atau kalau kena penyakit kulit udah gak level panuan yang bisa sembuh pake kalpanax .
Gue tahu kok seberapa brkjxnfnjknklsf nya skenario yang sampai sejauh ini terbaca dan gue lalui. Gue bisa apa sih untuk menghindari itu, pilihan yang ada cuma lawan atau dilawan. I prefer choose the first one, because I don't have an option to silent apalagi sembuyi.
Buat gue ini saat main strategi, kita harus tahu mana lawan mana kawan. Kadang perlu untuk berpikir jahat untuk mengira-ngira pa yang musuh ingin lakukan. Gue gak tahu akan sejauh apa permainan ba98834y ini, tapi melalui tiap peristiwa br845utyir ini gue semakin yakin, junjungan gue gak pernah salah! Junjungan gue beneran hidup, dan gue cuma percaya dan ngandalin junjungan gue.
This is the most absurdly postingan that I ever write. I'm crazy right now, baaaaeebbbbyeeee