Jumat, 09 Februari 2018

Makan Tuh Cinta

“cewek matre..cewek matre..ke laut aje”
“cewek matre..cewek matre.. cewek matre gangguin cowoknye”

Orang jawa bilang katanya kalau cari jodoh harus lihat bibit bebet bobot nya, artinya kudu diruntut tuh siapa dalang dibalik keberadaan seseorang ini sampai dia bisa jadi dia yang kita temuin dan hendak kita jadikan pasangan. Ini gak salah sih, totally gak salah. Toh tanpa memandang siapapun dia ketika ditanyakan mengenai pasangan hidup pasti akan menyebutkan hal-hal baik termasuk mungkin kriteria ‘keluarga baik-baik’ merupakan salah satu keharusan dalam memilih seorang pasangan hidup.

Saat ini I have been alive almost for 30 years, dan gue single available. Yes, gue cukup blak-blakan soal status gue ini bukan untuk mencari pasangan hidup tapi untuk memperlihatkan gue cukup serius tentang relasi pernikahan karena stage ini bukan kayak sedang main rumah-rumahan, dan punya anak itu gak kayak lagi maen barbie-barbie-an (eventho gue gak pernah ngerasain punya barbie tapi gue tahu gimana rasanya role playing jadi mamak dan maen rumah-rumahan).

Dengan kondisi gue saat ini sebenarnya untuk tetap jadi wanita karir itu sungguh sangat struggling, karena kondisi badan gue sangat tidak tersetting untuk bisa berpikir cepat, mengambil keputusan dengan cepat, dan cuma didominasi perasaan dan ego. Akhirnya gue cuma mau bilang, badan dan pikiran gue ini pikiran mamak rumahan. Ets, tunggu dulu, gue gak lagi mendeskriditkan golongan ibu rumah tangga ya, ojo emosi sek. Bersyukurlah engkau wanita karir dan bersyukurlah engkau ibu-ibu rumahan karena bagianmu itu sendiri-sendiri, dan tantangan mu juga sendiri-sendiri. Kalau sekarang gue belum punya tanggungan, belum punya pasangan masak iya gue menyetting badan dan pikiran gue untuk jadi ibu rumah tangga? Buat siapa? Wong di rumah gue ada mama yang masih berperan jadi ibu rumah tangga, kalau gue? Ya jelas tersetting jadi asisten rumah tangga kalau gue menaruh pikiran dan badan gue jadi mode ibu rumahan.

Alasan inilah yang akhirnya sering bikin gue marah sama the milestone karena beliau ini sedang membunuh masa depan gue dari zaman gue sama sekali gak tahu menahu tentang apa-yang-terjadi-dengan-hidup-gue.
Kalau akhirnya gue harus nuruti mode yang disetting mak gue (nah akhirnya keluar juga tersangkanya), saat ini mungkin anak gue udah dua. Dari sejak zaman gue kuliah dimana gue punya cem-ceman sendiri, mereka ( I use these term instead of ‘tersangka’, sengaja pake bahasa inggris, supaya gak semua dari mereka bisa paham maksudnya apa) juga gak diem-diem aje soal pasangan hidup. Bakal calon yang disodorkan semua high quality menurut pandangan dia alias mapan finansial, kalau iya gue cewek matre, tanpa jurus apapun lah gue sikat dari dulu. Tapi gue justru lebih milih pake jurus ‘mlipir alus’ untuk bilang ‘sorry gue masih anak kuliahan, umur gue masih 19 tahun dan kamu sudah cukup umur untuk menikah, so segerakan saja niat tulusmu itu dengan mencari pasangan hidup yang seimbang’. Sampai sini dulu, adakah yang salah dengan sikap gue? Men, umur gue 19 tahun mak gue selalu ngomong tentang nyari jodoh dan tentang menikah usia muda. Waktu itu gue sih sama sekali gak nyangka kalau ternyata ada udang dibalik gimbal udang. Gue sama sekali gak paham emang tabu ya cewek gak nikah dan mencukupkan diri dengan pekerjaannya. Apakah selalu cewek harus menuruti kaum lelaki? Kemana itu emansipasi? Dan begonya adalah the milestone ini justru perempuan juga, mana wanita karir lagi. Duh, kemana otak lo Bu? (Biarin kasar gemes gue soalnya).

Gue sama sekali tidak mendeskriditkan justru setelah menikah hidup salah seorang dari mereka justru lebih terangkat martabatnya. Itu hal yang biasalah dan wajar, orang mana yang gak mau diangkat martabatnya. Tapi sekali lagi gue jelasin ya, menikah itu gak lagi kayak kita maen rumah-rumahan. Beda cara mencet odol aja bisa jadi masalah besar, nah ini nih yang akhirnya perlu dicermati. Menikah itu gak tentang take and give doang apalagi saling mengisi, karena memang gak lagi jual parfum refillan. Tapi tentang dua pribadi yang sudah utuh membentuk kesatuan. Kenapa harus utuh dua-duanya? Supaya ditengah perjalanan pernikahan yang katanya berliku nanti gak gampang jadi alay ataupun jablay parahnya alay yang jablay duh!
Maksudnya gimana? Dunia pernikahan itu bakal kita jalani setengah dari umur hidup kita di dunia kalau Tuhan mengizinkan. Kehidupan setelah pernikahan akhirnya tergantung dari cara kita memilih pasangan hidup apakah akan mendatangkan kerajaan surga di bumi atau justru mendatangkan kerajaan maut, dan pasangan yang baik sebenarnya-benarnya adalah pasangan yang mampu mendatangkan kerajaan surga di bumi dan itu butuh proses pergumulan dan doa yang panjang. Gak segampang nggoyang cetakan kue goyang, goyang grobag es goyang ataupun goyang aji-aji jaran goyang.

Untuk saat ini gue berani bilang, gue bisa jalani hidup gue sendirian toh akhirnya itu terbukti. Cita- cita gue untuk menikah di umur 25 sudah kandas, tapi justru dengan kandasnya keinginan itu membuat gue bertanya- tanya tentang sebenarnya apa yang mau gue lakukan ditengah-tengah hidup yang teramat singkat ini, dan here I’am dengan kondisi yang amat sulit ini. Saat ini memang gue sedang berusaha menuntaskan apa yang sudah gue mulai tentang studi gue. Men gue nyesel ketika gue tahu tentang sebenarnya-apa-yang-terjadi dan kalau inget kuliah dulu, saat ini meskipun terlihat mustahil gue berusaha untuk meyakinkan diri bahwa gue tetaplah Titis yang dulu and keep it going until finish line. Dan lagi keputusan untuk tidak menikah (saat ini dan gak tahu kalau tiba-tiba berubah) adalah keputusan yang paling bijak menurut gue, karena akan sangat tidak fair untuk pasangan gue dan keluarganya menerima masalah imbas dari kondisi sulit ini, gampangnya gini lah gue gak tega nyeburin anak orang ke kolam keruh tempat gue berkubang. Itu akan amat sangat tidak sehat untuk relasi yang bakal terbentuk, dan lagi gue gak siap untuk jadi ibu rumahan (sorry to say but it is the truth) hanya karena gue tiba-tiba jadi bego dan menjelma menjadi budak cinta.

Jadi gimana? Menikah gak (cuma) pake cinta kan? Menikah itu ribet pol, makan tuh cinta.

Senin, 22 Januari 2018

Leader Kok By Design

Menarik sih sebenarnya ketika menyadari kondisi gue saat ini. Hampir semua orang yang pernah berdiri di depan gue jadi orang semua. Gue sangat mengapresiasi ketika memang orang tersebut memenuhi kualifikasi yang diperlukan. Tapi kalau akhirnya yang gue temuin adalah justru orang yang sangat oportunis dan egois, duh ngeri gak kebayang jadinya negeri ini dipimpin sama orang yang gak qualified untuk jadi pemimpin malah dipenuhi sama koruptor dan mementingkan urusan golongannya. Atau lebih enggak banget lagi kalau yang mimpin sebenernya cuma dipakai untuk jadi boneka atau malah perisai untuk suatu tindakan yang rahasia namun sistematis. Dan jangan heran kalau fenomena itu ada, gue lihat pake mata kepala gue sendiri, di rumah gue sendiri. Sebenernya gak qualified lah untuk jadi seorang pemimpin, ide kreatifnya gak ada. Tapi ketika muncul ide kreatif dari orang lain dan disampaikan ke pemimpin yang levelnya lebih tinggi alasan yang langsung tajam menusuk adalah " dirumahmu kayak gimana?" (kira-kira gitulah defence si Bapak) karena memang pemimpin dari golongan yang gue bahas ada di rumah gue. Gue gak bisa berargumen banyak kalau memang pemimpinnya aja gak memenuhi persyaratan yang gue utarakan.

Dari paragraf pembuka yang gue tulis panjang lebar diatas, sebenernya gue cuma pengen bilang kalau memimpin itu memang gak harus pinter karena yang diperlukan adalah memahami ruang lingkup sistem dimana dia ditugaskan dan mampu mengintegrasikannya kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Tapi juga jangan bego untuk selalu ngikutin apa yang orang lain katakan tentang isu-isu yang bersangkutan sama dirinya. Bisa gila gosip kalau begitu jadinya. 

Terus gimana? sebagai seorang pemimpin ada yang bilang kalau pemimpin itu tidak dilahirkan tapi dibentuk dan diproses. Ya, itu betul banget. Jadi jangan selalu percaya untuk jalan pintas yang menawarkan cara cepat  untuk jadi pemimpin. Lu perlu paham gimana cara ngatur dan pendekatan ke orang lain sebelum bisa memimpin mereka, lu mesti ngerti apa tujuan organisasi lu dan gimana ngatur strategi dan naruh orang-orang lu supaya tujuan lo tercapai. Lu juga mesti ngerti kapan harus nge-gas kapan harus nge-rem dan kapan harus banting stir dan kapan harus benar-benar berhenti istirahat. caranya tahu? gak lain dan gak bukan adalah dengan belajar dan berproses. Relasi itu penting tapi relasi jangan sampai relasi mengaburkan cara pandang dan visi organisasi yang lu pimpin. 

Poin-poin yang gue jelasin diatas itu memang sangat normatif dan sangat sering dipelajarin di ilmu pengetahuan macam manajemen dan seminar-seminar tentang kepemimpinan. Karena memang gue gak ngerti gimana caranya jadi pemimpin pakai ilmu pengasihan. Yang berpotensi bikin anak buah lu jadi bego-bego semua supaya lu sendiri yang paling pinter, damn I was told it!

But, asal lu tahu dengan bikin anak buah lu jadi bego tidak serta merta membuat mereka menaruh respect yang tinggi terhadap lu. So, lebih baik bersinergi dengan mereka, kalau perlu lihat siapa yang menonjol diantara mereka supaya lu bisa dapet ide-ide segar yang mungkin lu sendiri yang gak pernah kepikiran. Karena bikin orang lain bego supaya mereka hormat sama lu udah gak jaman, man! Ini bukan orde baru, jadi buanglah konsep kepemimpinan di jaman bahuela itu.

So, pemimpin by design? let's check his performances out! Biar gak cuma ngandelin koneksi dan relasi apalagi aji-aji tapi mensinergikan otot dan otak. Wes ngono wae, gak setuju? Luweh!


Minggu, 21 Januari 2018

Ketika Mimpimu Tak Begitu Indah Part 1

'Sekumpulan orang yang berkomunal dan menganggap hidupnya sudah disucikan dan dikuduskan akhirnya menyerah dan kalah ketika harus menghadapi 'pemberontakan kecil' seorang anak baru gede (ABG). Langkah terakhir yang akhirnya mereka pilih adalah menyerahkan 'pembinaan' kepada kuasa udara'

Halo world?
Ngerasa ada yang salah sama para frase diatas? Ya, ini teriakan seseorang yang merasa salah asuhan. Malam ini, dan malam malam sebelumnya gue selalu terganggu dengan perasaan ini. Perasaan putus asa, kalo gue boleh kasih nama. Siang tadi gue mimpi, buruk. Gue di-bully dan masalah dimimpi itu kelar ketika gue memutuskan untuk bangun dan mandi sore karena persiapan untuk ibadah sore.

Pertanyaan yang mungkin keluar dari ucapan lo adalah mungkin kayak gini 'Tis kamu pernah di-bully waktu kecil?' kalo itu pertanyaan lo, gue bakal jawab. Gue gak pernah di-bully waktu kecil sama temen-temen gue. Kalo diejek pernah, paling banter mereka akan ngejek bentuk rambut gue yang tebel dan brekele ini. Yah gue akuin kalau bentuk rambut brekele ini memang bikin gue jadi gak pede di masa-masa kecil gue. Tapi meskipun begitu temen-temen gak akan ngejek terlalu lama dan mereka juga gak berani 'nyerang' gue, karena waktu SD gue termasuk anak yang tomboi, termasuk deretan anak pinter di kelas dan secara fisik badan gue bongsor diantara temen-temen yang lain. Siapa yang berani sama gue dengan kondisi begitu. Even, gue bukan termasuk geng anak-anak cewek yang cantik tapi temen yang cantik pasti terkenal dan pasti kenal gue, selain karena emang kelasnya cuma satu.

Meskipun waktu kecil gue gak pernah menerima bentuk kekerasan di teman seumuran, gue terima perlakuan keras justru dari bokap dan pernah terima semacam bentuk pelecehan seksual dari orang lain yang justru gak gue kenal. Yang terkahir ini, belum pernah gue post kemanapun dan belum pernah gue ceritain ke siapapun, karena memang gak mengubah orientasi seksual gue meskipun ketika kejadian gue ngerasa jijik aja dan cukup beberapa lama bikin gue gak berani naik bus karena memang yang 'tukang grepe' itu kernet bus kota yang biasa gue naikin kalau pas pulang sekolah. Meskipun gue gak lupa kejadian itu tapi itu gak sampe kebawa mimpi dan bikin ngigau nangis karena memang habis itu gue bisa move on dan selalu pasang kuda-kuda kalau ada yang berani senggal-senggol gak sopan. Oh pernah juga gue baru inget, dada gue disenggol  pake pensil sama anak kecil, YES ANAK KECIL! yang gak sopan banget. Dia awalnya buntutin gue buat nawarin pensil pas gue lagi kelar makan pas wisata di Kintamani, Bali. Kejadiannya pas gue kelas dua SMA. Huuuhhfft! Kayaknya emang orang Indonesia nih belum bisa menghargai perempuan dan mengeksploitasinya cuma buat jadi pemuas nafsu aja. Kapan mau bikin negara maju, kalau syahwat masih belum bisa dikendalikan. Oke gue kira untuk bahasan ini kudu gue stop karena bukan bahasan utama. Back to main topic!

Papa orang yang misterius, tiga puluh tahun gue hidup gue belum bisa bilang kalau gue mengenalnya dengan sangat baik. Gue gak tau masakan kesenengannya, gue gak tau hobinya apa selain membaca dan menulis dan kotbah. Gue gak tau cita-cita waktu kecilnya apa, pokoknya banyak hal yang gue gak tau. Ingatan gue tentang papa, mostly adalah ingatan buruk. That's why mimpi buruk gue selama 'setan' ini nempel di hidup gue mostly tentang papa dan pukulannya atau tentang mama, kematian dan air bah. Gue masih ingat ketika bu guru di sekolah nanyain tentang bekas pukulan di betis yang gak bisa ditutupin pake rok seragam waktu itu, ketika ditanya yah dengan polos gue akan cerita namanya juga anak kecil mana mungkin minta belas kasian sambil pamer ' bu saya habis dihajar sama papa, nih!'. Lepas dari kemoceng, sebutin deh apa aja pernah kelempar di badan gue mulai dari sabuk polisi yang ujungnya besi, gagang sapu, tangan kosong, hiasan tongkat-tongkatan dari kayu, gantungan baju, cubitan, ancaman dan pukulan di badan dan kepala udah kenyang dihidup gue. Dih gue mpe nangis kalo inget. Benang merah dari pukulan-pukulan itu sebenarnya gak ada, ada kalanya papa marah yah karena jengkel, baru pulang kerja dan melihat ada yang tidak beres atau tidak sesuai kehendak hatinya. Diktator, mungkin itu kata yang tepat. merasa paling benar dan berkuasa di zamannya. 'Selama lo hidup dan makan bergantung dari gue, halal buat buat gue mukul lo' kira-kira gitu lah prinsip hidupnya. jadi ya wajar kalau gak pernah ada orang yang betah tinggal di rumah kami dalam jangka waktu yang lama, termasuk keluarga dan termasuk pembantu meskipun keringan tangan-nya gak nyampe ke pembantu. Bisa dihitung pake satu tangan pembantu yang betah dan ngoyot (=berakar) di rumah ini.

Karena pukulan-pukulan itulah membuat gue selalu bingung, bingung ketika harus menyelesaikan suatu masalah. karena gue diajarin untuk nyelesaiin masalah dengan pukulan yang diawali dengan peringatan. Jadi kalau ada masalah dan kamu dipukul masalahmu selesai, that was reconciliation forms. Gue gak diajarin apa itu musyawarah karena yang gue tahu untuk menjalankan suatu hal itu lewat perintah. Gue gak diajarin gimana itu mengampuni, gimana menyelesaikan masalah dengan berbicara, berdiskusi dan bahkan berbeda pendapat itu gimana ngatasinnya.Itu dari pandangan gue sebagai anak melihat interaksi bapak-anak yang terjalin antara gue dan papa.

Gue juga sanksi papa sebenernya gak pernah kenal baik siapa gue, meskipun gue anaknya. Dia gak pernah tahu kesukaan gue, dia gak pernah tau apa yang gue mau. Jadi gue gak kaget ketika selesai SMA dia orang yang berpikir untuk tidak meneruskan pembiayaan sekolahku. Sementara karirnya di kepolisian sudah mencapai pangkat perwira menengah. Gue gak kaget mama jadi nekat ketika harus berurusan dengan keuangan dan kebutuhan sekolah k

Kamis, 18 Januari 2018

Gue Gak Paham

Saat aku sendiri
Hanya kau yang mengerti
Dunia tak pahami
Sedalam yang kau teliti

Lagu ini sebenarnya cukup asing ditelinga gue saat akhirnya gue memutuskan untuk mengunduh aplikasi JOOX di smartphone, dengan pertimbangan gak perlu memory internal yang besar untuk bisa dengerin lagu yang up to date dan lagu yang old school jaman gue masih sekolah dulu. Gue juga gak tau kenapa si penciptanya memberikan judul Nirmala, karena sebenarnya ceritanya tentang TITIS WIDYA, ge er? i don't think so, coba deh dengerin. Lo bakal nemuin cerita hidup gue beberapa tahun terakhir di lagu itu. Beberapa kali sebelum gue dengerin sendiri lagu ini, gue pernah denger entah alam gaib atau alam nyata atau malah dosen gue di depan kelas nyebut kata 'Nirmala', dan gue gak paham apa maksudnya. Tapi setelah gue denger lagu ini, pikiran gue langsung dengan cepat me-skrinning ingatan-ingatan kata-kata yang pernah gue denger dan gue teringat 'yaaa ada seseorang yang pernah menyebutkan kata ini di sekitar lingkungan gue.

Tapi tunggu dulu, blog kali ini gue tulis bukan untuk meresensi lagu yang dipopulerkan sama Petra Sihombing ini. Kali ini gue mau nulis tentang opini gue, mungkin lebih dalam dari opini, gue berani menyebutnya sebuah paradigma atau cara pandang gue yang dipengaruhi oleh kepercayaan, pengalaman dan lingkungan di sekitar gue. So, ini mungkin akan terkesan so weird buat lo, buat it is fine karena toh saya tidak sedang mengajakmu untuk menyetujui atapun mendebat apa yang bakal gue bilang.

Gue bukan anak yang pinter dan rajin, dengan segala kesadaran penuh gue menginsafi pernyataan gue ini. Tapi gue sadar gue punya kelebihan lain yang mungkin gak dipunya orang lain dan menurut gue itu cukup adil buat gue ketika harus bersyukur sama Tuhan, dan menurut gue orang lainpun juga punya jatah 'berkah'nya sendiri yang mungkin akan berbeda sama yang gue punya. Oke, di satu sisi gue bukan orang yang menonjol ketika harus memimpin, tapi gue orang yang sangat terbuka ketika harus ngajarin as long as bukan hanya searah ya (gue mulu yang ngomong), tapi macem diskusi gitu. Karena gue tahu, ingatan yang gue punya ini beberapa tahun terakhir udah gak segede ingatan gajah dan sulit sekali buat gue sendiri to take the control of it.

Gue punya record nilai yang gak jelek-jelek amat lah tapi jelek banget. Setelah jadi lulusan terbaik diantara temen-temen SD gue, masa SMP gue dihiasi dengan nilai merah di rapor dan itu selalu muncul di setiap semester kecuali semester terakhir banget waktu gue lulus SMP. Setelah itu dengan nilai yang paaaaas banget pula, gue akhirnya bisa jadi anak IPA pas kenaikan kelas di SMA kelas 1. Nasib pas-pas an gue gak berhenti sampai situ, waktu kelulusan SMA, nilai UAN matematika gue menyentuh nilai paaaaaaaaasssss banget yang kalo salah satu nomor lagi aja bikin gue gak lulus dan gagal jadi anak UGM. UGM? yeah keren ya? tapi gue aja gak pernah nyangka bakal berangkat jadi anak Jogja dan sampai sekarang gue gak tau apakah nilai masuk gue juga paaaasssss banget tapi yang pasti IPK gue paaaaaaaaasssss banget buat lulus jadi Sarjana Farmasi sama Apoteker. Apakah berhenti ke-pas-an gue sampai disitu, saat punya desire ingin kerja di pelayanan eh tes kerja juga pas banget bisa di rumah sakit, dan pas mau daftar S2 lihat persyaratannya eh lha kok ya pas banget sama pengalaman kerja yang dipunya.

Si Manusia Nyaris, mungkin itu sebutan yang pantas buat gue. Tapi ada yang lebih pas dan sebutan ini gue agak gak suka Si Bejo. Ya gue gak suka dengan sebutan bejo karena gue gak percaya apa itu bejo. yang gue percaya tiap orang dikasih jatahnya masing-masing ( gue ngulang ini dari pernyataan sebelumnya). Gue pengen banget punya IPK cumlaude makanya gue belajar, tapi kalaupun gak cumlaude paling enggak gue udah mencoba. Yah, itu prinsip gue, process is must to be precise karena bukan hasil yang gue cari. dan kenapa gitu kalau gak cumlaude? buat gue lebih maluan untuk jalan-jalan pake baju minim dibanding IPK gak cumlaude. 

Dengan segala kenyarisan hidup gue, alangkah naif nya gue saat ini, ketika harus menghadapi nilai A ataupun B ada di transkrip nilai gue. Gue berubah jadi manusia skeptis yang justru bertanya-tanya is it true that i got nilai A and is there no place for D? Nilai langganan gue pas zaman S1. Bahkan ketika saat ini temen-temen gue yang udah pada selesai proposal tapi gak pada maju ujian proposal, gue jadi bingung gitu kenapa?  Gue bukan superwoman meskipun suka sama wonderwoman, dan sudah jadi komitmen pribadi gue untuk nyelesaikan studi ini selama apapun dan sesulit apapun, karena gue tau pikiran gue gak senormal pikiran orang lain dimana mereka bisa mengontrol dan mengatur pikiran mereka sendiri. Tukang bentor nge-gocek motor gue, gue diemin aje. Orang lain nikung cowok yang gue suka, gue juga diem aje. Masak iya untuk masa depan orang lain gue tega untuk memposisikan diri jadi prioritas. 

Endurance, itu kelebihan gue meskipun ada saatnya gue gak persisten.Tahan sama menderita itu hasil dari proses hidup yang panjang. Mungkin sekitar dua belas tahun terakhir proses itu berjalan dan gue diasah untuk bertahan dalam penderitaan.

Sekali lagi gue bilang, gue gak pinter dan gue gak rajin. gue cuma gak paham. Macem elo yang gak paham sama gue.


Rabu, 10 Januari 2018

Undescribeable Feeling

Malam ini gue rasa, I need to post this. Perasaan yang gak enak akhir-akhir ini membawa gue ke dalam perjalanan waktu untuk kembali kemasa yang sebenarnya gak pernah bisa diulang, gak akan pernah bisa diubah. Mungkin time travel machine masih simpang siur keberadaannya, namun gue ngalami apa itu me-rewind lagi suatu hal yang pernah terjadi.

Ya ada seseorang yang datang ke dalam mimpi gue tadi siang. Seseorang di masa lalu yang sebenarnya gak pernah punya cerita apa-apa dan sama sekali udah terlupa. Cuma gara-gara punya masalah waktu bikin SIM yang kentel banget sama praktek nepotisme gue keinget sama satu nama yang pernah ketemu dulu cuma sekali sebelum akhirnya gak pernah ketemu lagi saat gue masih sekitar semester empat waktu itu. Perasaan waktu itu memang sedih tapi hidup harus berlanjut mamen, masa-masa kuliah yang gak terlalu lancar di waktu-waktu itu, IPK yang tiba-tiba menukik tajam menghasilkan nasakom di KHS dan kondisi rumah yang penuh masalah membuat gue saat ini berefleksi; memang tidak ada damai sejahtera di luar kuasa TUHAN untuk mendapatkan sesuatu.  Please jangan bawa ke kondisi seperti itu lagi TUHAN. Cukup masa muda ku ini yang jadi korban.

Hidup ini memang singkat, kayak embun kata bokap. Pagi muncul, siang menguap. Atau macem rumput yang tumbuh, tinggi habis itu dipotong, dibakar. Pengalaman siang ini bikin gue bernostalgia sekaligus berefleksi. Berfleksi dan mengingat kata-kata kakak KTB gue yang galak banget dengan statusnya kemarin " kowe sopo, ngopo kok ngrusuhi rumah tanggane wong" yes, that was my words buat mereka yang sering nongol dipikiran gue tapi  gak pernah nongol di kenyataan hidup gue, sampai berasa sepi tapi rame sendiri. I hate this feeling anyway. Gue sedih untuk perasaan yang tiba-tiba muncul karena mimpi itu, because it would be never unmet my expectation, He already has his life as a husband and as a father. Mungkin ini waktu yang tepat untuk akhirnya bilang i need to head my own journey. Gue gak tau gue bakal ketemu siapa dan nemuin apa. Tapi gue harus berdoa untuknya dan bilang kalau perasaan ini udah kelar.


Sabtu, 16 Desember 2017

A few notes in the middle of last month in 2017

Maybe this is the suck condition, they can't do confession that they had been part of those sh*t group. Honestly, I can't wait for the final episode this drama. yes, the drama of life. My life is like soap opera for a while since I have decided to stay in my hometown. I think it will be good vibes to strengthen my student's life but it brought some troubles come back to my life. Yah this year is full of shi*t happen. 


Selasa, 31 Oktober 2017

PRESENCE

Pernah enggak lo ngerasa bahwa seseorang yang ada di lingkaran terdekat lo secara fisik tapi lo gak pernah ngerasa dia benar-benar 'ada'? Atau justru saat ini lo yang ngerasa ada di posisi itu? Buat gue hantu  bahkan Tuhan aja keberadaannya kita rasakan, kalo sampai ada orang yang keberadaannya tidak kita rasakan berarti ada yang salah. Ya entah dengan perasaan dan hidup kita atau dengan orang yang bersangkutan.
Tapi pernah gak justru saking lamanya keberadaan orang itu tidak kita rasakan, tiba-tiba ketika ia ada seakan-akan kita merasa 'agak maksa' gitu?

Itulah yang namanya keberadaan yang sering disebut presence. Presence is  about our feel that somebody still exist. Ya, itu yang gue alami. Gue gak menyadari keberadaan orang-orang yang secara fisik hadir di sekeliling gue, tapi gue justru menyadari keberadaan 'mereka'. Mereka yang hanya bisa membohongi gue lewat suara dan menipu gue lewat suara orang-orang disekeliling gue yang akhirnya membuat gue gak sadar kalau gue sedang meniadakan kesadaran gue tentang keberadaan fisik teman-teman gue, orang tua gue, dsb.

Gue sedih dengan itu semua, gue kehilangan banyak hal, kesempatan, teman baru, orang-orang yang gue sayang yang setia nemenin gue. Gue sengaja nulis kekecewaan ini karena gue perlu nulis. Ini sulit untuk dibicarakan, ini sulit untuk dimengerti tapi ini sangat terasa menyakitkan. Dan jalan keluar yang paling manjur adalah dengan menulisnya.

Gue punya cerita kedua, ikatan darah tidak selalu mempunyai korelasi dengan kehadiran seseorang. Dan parahnya jika itu terjadi dalam jangka waktu yang lama akan membuat kita jadi resisten terhadap kehadiran orang tersebut sekalipun ada ikatan darah, ada hubungan saudara, etc. Pernah denger gak kalau karakter kita itu dibentuk dari kebiasan yang berulang-ulang? Sama halnya dengan yang gue bilang tadi. Berhati-hatilah untuk memilih kebiasaan mana yang akan kamu lakukan, karena itu akan menentukan karaktermu. Dan berhati-hatilah ketika kamu memilih untuk tidak menyadari keberadaan mereka yang secara fisik ada di sekitarmu.

Disini gue gak mau nyalahin faktor lain yang mungkin akan jadi faktor-faktor pendukung, karena memang hidup kadang bukan tentang mencari kesalahan sekalipun kita tidak bersalah.

-IDLE MODE-