Sabtu, 28 Oktober 2017

Kamu tahu?

Gue anak pertama perempuan dari dua orang bersaudara perempuan. Jarak lahir kami lima tahun. Jarak yang menurut beberapa orang terlalu jauh, tapi menurut mama itu ideal tapi menurut gue bodo amat, bisa punya kesempatan punya anak aja udah sujud syukur. Kami lahir dengan tidak ada kemiripan sama sekali, there are many difference things from both of us. Meskipun sejak adek gue lahir mama selalu berusaha untuk kasih barang yang sama atau paling enggak hampir sama atau paling enggak lagi identik lah untuk menghindari kesan dibedakan.

Adek gue sangat mbok-mboken waktu kecil, dimana ada mama selalu ada dia. Gue juga tapi setelah dia lahir semua berubah. Agak asing ketika pertama kali lihat dia dibawa pulang ke rumah setelah mama lahiran di rumah sakit. Bukan berarti gue gak nunggu-nunggu kelahirannya. Kami (gue dan papa) always ngobrol tentang adek yang saat itu masih dikandungan. Masih ingat betul poling pilihan nama yang akan kami berikan untuk adek yang bakal lahir itu. "TOTOT" itulah nama pilihan kami untuk adek kecil yang akan lahir, yang kami harapkan adalah laki-laki. Mama dan papa tahu sekali kalau gue pengen banget punya adek laki-laki bukan kenapa, karena saat itu mainan gue sama anak-anak cowok lebih gede. Jangan lo bayangin gue maen masak-masakan pake tools yang komplit, gue itu waktu kecil maen layangan tapi senarnya pendek. Jadi cuma bisa terbang kalo kita lari, kebayang gak lo?

Gue yakin sebenarnya mama dan papa sudah tau kalo adek gue itu sebenarnya perempuan tapi mungkin mereka gak mau bilang lebih awal supaya gue gak kecewa.  Baru setelah H+1 si adek lahir gue diceritain waktu sebelum berangkat ke sekolah kalau "adeknya perempuan sukanya ngemut jempol". Gue gak inget perasaan gue waktu itu tapi yang jelas saat sore hari tiba toh akhirnya gue nungguin si newborn baby ini pulang ke rumah. 

Layaknya tamu, begitu sampai di rumah mama dan adek baru ini lewat pintu depan yang biasa dilewatin tamu langsung menuju kamar belakang. Karena saking excitednya, gue langsung ngibrit ikut ke kamar untuk lihat kayak gimana sih mukanya si adek perempuan yang gak pernah gue bayangin ini (jujur, selama mama hamil yang gue bayangin, gue bakal punya adek laki). Impresi pertama kami tidak begitu gue ingat, karena dia masih molor dan gue kesenangan akhirnya mama di rumah juga, dan rumah jadi rame lagi.

Tapi sayangnya, si adek kecil ini bukanlah adek yang kuat fisiknya. Mungkin baru kali itu mama dibikin pusing keluar masuk rumah sakit karena anaknya opname. Ya baru kali itu karena selama gue kecil sampai umur sekolah seinget gue belum pernah sakit sampai dirawat di rumah sakit. Itu hanya karena berkat ASI eksklusif plus plus (terimakasih ASI). Sementara saat adek gue lahir, dia gak dapet jatah ASI yang cukup. Mungkin itu alasan daya tahan tubuhnya lemah. Hal itulah yang akhirnya membuat 'perawatan' kami dibedakan oleh papa. Gue sirik? yes! anak mana yang gak sirik kalo ngerasa dirinya dihajar kayak preman tapi yang satunya disayang? Ibarat lo punya dua keranjang, keranjang yang satu lo masukin sampah tapi yang satunya lo tanemin bunga. Gue akan cerita tentang kekejaman jaman jahiliah (jaman gue kecil) di lain waktu. Meskipun demikian, gue gak merasa sendiri karena mama gak kayak gitu sama gue tapi gue tumbuh dengan kepala batu dan ambekan (mungkin masih ada nyisa sampe sekarang). 

Waktu berlalu hingga akhirnya ada kejadian yang mukul kredibilitas gue sebagai seorang kakak. Umurnya mungkin sudah lima tahunan saat itu. Kebiasaan sore kami adalah maen sama temen seumuran di kompleks rumah. Kesukaan dia adalah permen fruitella, ada yang masih ingat anak 90-an??? dia nyebut tu permen dengan sebutan 'MENTEYA' untuk menyebut PERMEN FRUITELLA. Ada iklannya tuh "fruitellaaaaa...fruitella....fruit...fruit...fruitella...fruitelllaaaaaaaaa". Gue punya temen satu antar jemput sekolah tapi beda sekolah waktu SD yang rumahnya gak jauh dari rumah gue. Entah ada angin apa, sore itu dia naek sepeda dan adek gue perjalanan dari warung pulang beli permen. Hubungan dari dua frase ini dimana? Waktu adek gue sudah sampai berjarak dua meter dari rumah dengan posisi gue dan IRT berdiri di depan rumah menunggunya pulang, temen gue ini silau mungkin atau kelilipan matanya atau kenapa gue gak tau bisa nabrak adek gue yang sedang bergirang hati bawa permennya dari belakang (nyesek gue nulis bagian ini) di depan mata gue dan gue tahu prosesnya kayak gimana. Tapi telat bagi gue untuk terbang sejauh dua meter dan nyelametin dia. Gue cuma bisa teriak, panik dan lari karena langsung pecah tangisan si adek saat itu juga. Gue gak bisa marah, ya gue gak bisa marah . Gue tahu pelakunya siapa, gue kenal dia siapa, gue tahu rumahnya dimana, tapi yang gue pikirin "Papa mama pasti marah". Temen gue sudah bilang "maaf Mbak" dan gak gue tanggepin karena dia gak mungkin gue bawa sidang di depan MK (Mahkamah Keluarga) dan sampai sekarang keluarganya gak pernah datang ke rumah gue untuk sekedar minta maaf atas kejadian itu.

Setelah kejadian itu, janganlah tanya "dimarahin atau gak?" tapi bertanyalah "marah besar atau kecil?", gue gak terlalu inget proses 'persidangan' kala itu tapi yang jelas badan dan hati gue ngerasa sakit, karena gue saksi hidup tapi gue juga ditetapkan jadi tersangka untuk KTD (Kejadian Tak Diinginkan) itu dan gue harus menanggung dengan 'cap tersangka' di badan gue dengan dakwaan "kamu gak bisa jaga adek". Gue masih inget banget kata-kata itu. Tapi bukan berati itu kata-kata yang salah. Saat itu umur gue masih sepuluh tahun tapi gue berketetapan hati untuk bisa jadi kakak yang baik, meskipun gue gak tau jadi kakak yang baik itu kayak gimana.

Kamu anak yang ditunggu-tunggu sejak sebelum kamu lahir. Yang menantikanmu gak cuma ibu dan bapak (yang akhirnya kau ganti sebutan itu menjadi mama dan papa tapi aku rela) tapi akupun sangat menantikan mu. Selalu dapet souvenir ulang tahun dari sekolah minggu barengan karena lahir di bulan yang berdekatan. Seinget gue kita jarang berantem, tapi sering gosip bareng begitu kita berantem yang ada kita diem-dieman sampe ada yang buka pembicaraan duluan. Aku gak minta kamu inget semua peristiwa yang aku ceritain di atas. Tapi aku pengen kamu tahu bahwa cerita kita dimulai dari jauh sebelum kamu lahir.

Kalau saat ini gue lebih milih untuk diam terhadap siapapun termasuk dirimu. Itu pilihan gue, bukan karena gue gak sayang keluarga. Tapi semakin kita dewasa hidup ini semakin berubah, ya itulah hidup. Dan diam adalah bentuk ketidaknyamanan gue untuk menanggapi ketidaknyamanan hidup saat ini.

IDLE MODE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar