Minggu, 21 Januari 2018

Ketika Mimpimu Tak Begitu Indah Part 1

'Sekumpulan orang yang berkomunal dan menganggap hidupnya sudah disucikan dan dikuduskan akhirnya menyerah dan kalah ketika harus menghadapi 'pemberontakan kecil' seorang anak baru gede (ABG). Langkah terakhir yang akhirnya mereka pilih adalah menyerahkan 'pembinaan' kepada kuasa udara'

Halo world?
Ngerasa ada yang salah sama para frase diatas? Ya, ini teriakan seseorang yang merasa salah asuhan. Malam ini, dan malam malam sebelumnya gue selalu terganggu dengan perasaan ini. Perasaan putus asa, kalo gue boleh kasih nama. Siang tadi gue mimpi, buruk. Gue di-bully dan masalah dimimpi itu kelar ketika gue memutuskan untuk bangun dan mandi sore karena persiapan untuk ibadah sore.

Pertanyaan yang mungkin keluar dari ucapan lo adalah mungkin kayak gini 'Tis kamu pernah di-bully waktu kecil?' kalo itu pertanyaan lo, gue bakal jawab. Gue gak pernah di-bully waktu kecil sama temen-temen gue. Kalo diejek pernah, paling banter mereka akan ngejek bentuk rambut gue yang tebel dan brekele ini. Yah gue akuin kalau bentuk rambut brekele ini memang bikin gue jadi gak pede di masa-masa kecil gue. Tapi meskipun begitu temen-temen gak akan ngejek terlalu lama dan mereka juga gak berani 'nyerang' gue, karena waktu SD gue termasuk anak yang tomboi, termasuk deretan anak pinter di kelas dan secara fisik badan gue bongsor diantara temen-temen yang lain. Siapa yang berani sama gue dengan kondisi begitu. Even, gue bukan termasuk geng anak-anak cewek yang cantik tapi temen yang cantik pasti terkenal dan pasti kenal gue, selain karena emang kelasnya cuma satu.

Meskipun waktu kecil gue gak pernah menerima bentuk kekerasan di teman seumuran, gue terima perlakuan keras justru dari bokap dan pernah terima semacam bentuk pelecehan seksual dari orang lain yang justru gak gue kenal. Yang terkahir ini, belum pernah gue post kemanapun dan belum pernah gue ceritain ke siapapun, karena memang gak mengubah orientasi seksual gue meskipun ketika kejadian gue ngerasa jijik aja dan cukup beberapa lama bikin gue gak berani naik bus karena memang yang 'tukang grepe' itu kernet bus kota yang biasa gue naikin kalau pas pulang sekolah. Meskipun gue gak lupa kejadian itu tapi itu gak sampe kebawa mimpi dan bikin ngigau nangis karena memang habis itu gue bisa move on dan selalu pasang kuda-kuda kalau ada yang berani senggal-senggol gak sopan. Oh pernah juga gue baru inget, dada gue disenggol  pake pensil sama anak kecil, YES ANAK KECIL! yang gak sopan banget. Dia awalnya buntutin gue buat nawarin pensil pas gue lagi kelar makan pas wisata di Kintamani, Bali. Kejadiannya pas gue kelas dua SMA. Huuuhhfft! Kayaknya emang orang Indonesia nih belum bisa menghargai perempuan dan mengeksploitasinya cuma buat jadi pemuas nafsu aja. Kapan mau bikin negara maju, kalau syahwat masih belum bisa dikendalikan. Oke gue kira untuk bahasan ini kudu gue stop karena bukan bahasan utama. Back to main topic!

Papa orang yang misterius, tiga puluh tahun gue hidup gue belum bisa bilang kalau gue mengenalnya dengan sangat baik. Gue gak tau masakan kesenengannya, gue gak tau hobinya apa selain membaca dan menulis dan kotbah. Gue gak tau cita-cita waktu kecilnya apa, pokoknya banyak hal yang gue gak tau. Ingatan gue tentang papa, mostly adalah ingatan buruk. That's why mimpi buruk gue selama 'setan' ini nempel di hidup gue mostly tentang papa dan pukulannya atau tentang mama, kematian dan air bah. Gue masih ingat ketika bu guru di sekolah nanyain tentang bekas pukulan di betis yang gak bisa ditutupin pake rok seragam waktu itu, ketika ditanya yah dengan polos gue akan cerita namanya juga anak kecil mana mungkin minta belas kasian sambil pamer ' bu saya habis dihajar sama papa, nih!'. Lepas dari kemoceng, sebutin deh apa aja pernah kelempar di badan gue mulai dari sabuk polisi yang ujungnya besi, gagang sapu, tangan kosong, hiasan tongkat-tongkatan dari kayu, gantungan baju, cubitan, ancaman dan pukulan di badan dan kepala udah kenyang dihidup gue. Dih gue mpe nangis kalo inget. Benang merah dari pukulan-pukulan itu sebenarnya gak ada, ada kalanya papa marah yah karena jengkel, baru pulang kerja dan melihat ada yang tidak beres atau tidak sesuai kehendak hatinya. Diktator, mungkin itu kata yang tepat. merasa paling benar dan berkuasa di zamannya. 'Selama lo hidup dan makan bergantung dari gue, halal buat buat gue mukul lo' kira-kira gitu lah prinsip hidupnya. jadi ya wajar kalau gak pernah ada orang yang betah tinggal di rumah kami dalam jangka waktu yang lama, termasuk keluarga dan termasuk pembantu meskipun keringan tangan-nya gak nyampe ke pembantu. Bisa dihitung pake satu tangan pembantu yang betah dan ngoyot (=berakar) di rumah ini.

Karena pukulan-pukulan itulah membuat gue selalu bingung, bingung ketika harus menyelesaikan suatu masalah. karena gue diajarin untuk nyelesaiin masalah dengan pukulan yang diawali dengan peringatan. Jadi kalau ada masalah dan kamu dipukul masalahmu selesai, that was reconciliation forms. Gue gak diajarin apa itu musyawarah karena yang gue tahu untuk menjalankan suatu hal itu lewat perintah. Gue gak diajarin gimana itu mengampuni, gimana menyelesaikan masalah dengan berbicara, berdiskusi dan bahkan berbeda pendapat itu gimana ngatasinnya.Itu dari pandangan gue sebagai anak melihat interaksi bapak-anak yang terjalin antara gue dan papa.

Gue juga sanksi papa sebenernya gak pernah kenal baik siapa gue, meskipun gue anaknya. Dia gak pernah tahu kesukaan gue, dia gak pernah tau apa yang gue mau. Jadi gue gak kaget ketika selesai SMA dia orang yang berpikir untuk tidak meneruskan pembiayaan sekolahku. Sementara karirnya di kepolisian sudah mencapai pangkat perwira menengah. Gue gak kaget mama jadi nekat ketika harus berurusan dengan keuangan dan kebutuhan sekolah k

Tidak ada komentar:

Posting Komentar