Senin, 22 Januari 2018

Leader Kok By Design

Menarik sih sebenarnya ketika menyadari kondisi gue saat ini. Hampir semua orang yang pernah berdiri di depan gue jadi orang semua. Gue sangat mengapresiasi ketika memang orang tersebut memenuhi kualifikasi yang diperlukan. Tapi kalau akhirnya yang gue temuin adalah justru orang yang sangat oportunis dan egois, duh ngeri gak kebayang jadinya negeri ini dipimpin sama orang yang gak qualified untuk jadi pemimpin malah dipenuhi sama koruptor dan mementingkan urusan golongannya. Atau lebih enggak banget lagi kalau yang mimpin sebenernya cuma dipakai untuk jadi boneka atau malah perisai untuk suatu tindakan yang rahasia namun sistematis. Dan jangan heran kalau fenomena itu ada, gue lihat pake mata kepala gue sendiri, di rumah gue sendiri. Sebenernya gak qualified lah untuk jadi seorang pemimpin, ide kreatifnya gak ada. Tapi ketika muncul ide kreatif dari orang lain dan disampaikan ke pemimpin yang levelnya lebih tinggi alasan yang langsung tajam menusuk adalah " dirumahmu kayak gimana?" (kira-kira gitulah defence si Bapak) karena memang pemimpin dari golongan yang gue bahas ada di rumah gue. Gue gak bisa berargumen banyak kalau memang pemimpinnya aja gak memenuhi persyaratan yang gue utarakan.

Dari paragraf pembuka yang gue tulis panjang lebar diatas, sebenernya gue cuma pengen bilang kalau memimpin itu memang gak harus pinter karena yang diperlukan adalah memahami ruang lingkup sistem dimana dia ditugaskan dan mampu mengintegrasikannya kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Tapi juga jangan bego untuk selalu ngikutin apa yang orang lain katakan tentang isu-isu yang bersangkutan sama dirinya. Bisa gila gosip kalau begitu jadinya. 

Terus gimana? sebagai seorang pemimpin ada yang bilang kalau pemimpin itu tidak dilahirkan tapi dibentuk dan diproses. Ya, itu betul banget. Jadi jangan selalu percaya untuk jalan pintas yang menawarkan cara cepat  untuk jadi pemimpin. Lu perlu paham gimana cara ngatur dan pendekatan ke orang lain sebelum bisa memimpin mereka, lu mesti ngerti apa tujuan organisasi lu dan gimana ngatur strategi dan naruh orang-orang lu supaya tujuan lo tercapai. Lu juga mesti ngerti kapan harus nge-gas kapan harus nge-rem dan kapan harus banting stir dan kapan harus benar-benar berhenti istirahat. caranya tahu? gak lain dan gak bukan adalah dengan belajar dan berproses. Relasi itu penting tapi relasi jangan sampai relasi mengaburkan cara pandang dan visi organisasi yang lu pimpin. 

Poin-poin yang gue jelasin diatas itu memang sangat normatif dan sangat sering dipelajarin di ilmu pengetahuan macam manajemen dan seminar-seminar tentang kepemimpinan. Karena memang gue gak ngerti gimana caranya jadi pemimpin pakai ilmu pengasihan. Yang berpotensi bikin anak buah lu jadi bego-bego semua supaya lu sendiri yang paling pinter, damn I was told it!

But, asal lu tahu dengan bikin anak buah lu jadi bego tidak serta merta membuat mereka menaruh respect yang tinggi terhadap lu. So, lebih baik bersinergi dengan mereka, kalau perlu lihat siapa yang menonjol diantara mereka supaya lu bisa dapet ide-ide segar yang mungkin lu sendiri yang gak pernah kepikiran. Karena bikin orang lain bego supaya mereka hormat sama lu udah gak jaman, man! Ini bukan orde baru, jadi buanglah konsep kepemimpinan di jaman bahuela itu.

So, pemimpin by design? let's check his performances out! Biar gak cuma ngandelin koneksi dan relasi apalagi aji-aji tapi mensinergikan otot dan otak. Wes ngono wae, gak setuju? Luweh!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar