“cewek matre..cewek matre..ke
laut aje”
“cewek matre..cewek matre..
cewek matre gangguin cowoknye”
Orang jawa bilang katanya kalau cari jodoh harus lihat bibit bebet
bobot nya, artinya kudu diruntut tuh siapa dalang dibalik keberadaan seseorang
ini sampai dia bisa jadi dia yang kita temuin dan hendak kita jadikan pasangan.
Ini gak salah sih, totally gak salah.
Toh tanpa memandang siapapun dia ketika ditanyakan mengenai pasangan hidup
pasti akan menyebutkan hal-hal baik termasuk mungkin kriteria ‘keluarga
baik-baik’ merupakan salah satu keharusan dalam memilih seorang pasangan hidup.
Saat ini I have been alive
almost for 30 years, dan gue single
available. Yes, gue cukup blak-blakan soal status gue ini bukan untuk
mencari pasangan hidup tapi untuk memperlihatkan gue cukup serius tentang
relasi pernikahan karena stage ini
bukan kayak sedang main rumah-rumahan, dan punya anak itu gak kayak lagi maen
barbie-barbie-an (eventho gue gak
pernah ngerasain punya barbie tapi gue tahu gimana rasanya role playing jadi mamak dan maen rumah-rumahan).
Dengan kondisi gue saat ini sebenarnya untuk tetap jadi wanita karir
itu sungguh sangat struggling, karena
kondisi badan gue sangat tidak tersetting untuk bisa berpikir cepat, mengambil
keputusan dengan cepat, dan cuma didominasi perasaan dan ego. Akhirnya gue cuma
mau bilang, badan dan pikiran gue ini pikiran mamak rumahan. Ets, tunggu dulu,
gue gak lagi mendeskriditkan golongan ibu rumah tangga ya, ojo emosi sek. Bersyukurlah
engkau wanita karir dan bersyukurlah engkau ibu-ibu rumahan karena bagianmu itu
sendiri-sendiri, dan tantangan mu juga sendiri-sendiri. Kalau sekarang gue
belum punya tanggungan, belum punya pasangan masak iya gue menyetting badan dan
pikiran gue untuk jadi ibu rumah tangga? Buat siapa? Wong di rumah gue ada mama
yang masih berperan jadi ibu rumah tangga, kalau gue? Ya jelas tersetting jadi
asisten rumah tangga kalau gue menaruh pikiran dan badan gue jadi mode ibu
rumahan.
Alasan inilah yang akhirnya sering bikin gue marah sama the milestone karena beliau ini sedang
membunuh masa depan gue dari zaman gue sama sekali gak tahu menahu tentang
apa-yang-terjadi-dengan-hidup-gue.
Kalau akhirnya gue harus nuruti mode yang disetting mak gue (nah
akhirnya keluar juga tersangkanya), saat ini mungkin anak gue udah dua. Dari
sejak zaman gue kuliah dimana gue punya cem-ceman sendiri, mereka ( I use these term instead of ‘tersangka’,
sengaja pake bahasa inggris, supaya gak semua dari mereka bisa paham maksudnya
apa) juga gak diem-diem aje soal pasangan hidup. Bakal calon yang disodorkan
semua high quality menurut pandangan dia
alias mapan finansial, kalau iya gue cewek matre, tanpa jurus apapun lah gue
sikat dari dulu. Tapi gue justru lebih milih pake jurus ‘mlipir alus’ untuk
bilang ‘sorry gue masih anak kuliahan, umur gue masih 19 tahun dan kamu sudah
cukup umur untuk menikah, so segerakan saja niat tulusmu itu dengan mencari
pasangan hidup yang seimbang’. Sampai sini dulu, adakah yang salah dengan sikap
gue? Men, umur gue 19 tahun mak gue selalu ngomong tentang nyari jodoh dan
tentang menikah usia muda. Waktu itu gue sih sama sekali gak nyangka kalau
ternyata ada udang dibalik gimbal udang. Gue sama sekali gak paham emang tabu
ya cewek gak nikah dan mencukupkan diri dengan pekerjaannya. Apakah selalu
cewek harus menuruti kaum lelaki? Kemana itu emansipasi? Dan begonya adalah the milestone ini justru perempuan juga,
mana wanita karir lagi. Duh, kemana otak lo Bu? (Biarin kasar gemes gue
soalnya).
Gue sama sekali tidak mendeskriditkan justru setelah menikah hidup
salah seorang dari mereka justru lebih terangkat martabatnya. Itu hal yang
biasalah dan wajar, orang mana yang gak mau diangkat martabatnya. Tapi sekali
lagi gue jelasin ya, menikah itu gak lagi kayak kita maen rumah-rumahan. Beda
cara mencet odol aja bisa jadi masalah besar, nah ini nih yang akhirnya perlu
dicermati. Menikah itu gak tentang take
and give doang apalagi saling mengisi, karena memang gak lagi jual parfum
refillan. Tapi tentang dua pribadi yang sudah utuh membentuk kesatuan. Kenapa
harus utuh dua-duanya? Supaya ditengah perjalanan pernikahan yang katanya
berliku nanti gak gampang jadi alay ataupun jablay parahnya alay yang jablay
duh!
Maksudnya gimana? Dunia pernikahan itu bakal kita jalani setengah dari
umur hidup kita di dunia kalau Tuhan mengizinkan. Kehidupan setelah pernikahan
akhirnya tergantung dari cara kita memilih pasangan hidup apakah akan
mendatangkan kerajaan surga di bumi atau justru mendatangkan kerajaan maut, dan
pasangan yang baik sebenarnya-benarnya adalah pasangan yang mampu mendatangkan
kerajaan surga di bumi dan itu butuh proses pergumulan dan doa yang panjang.
Gak segampang nggoyang cetakan kue goyang, goyang grobag es goyang ataupun
goyang aji-aji jaran goyang.
Untuk saat ini gue berani bilang, gue bisa jalani hidup gue sendirian
toh akhirnya itu terbukti. Cita- cita gue untuk menikah di umur 25 sudah
kandas, tapi justru dengan kandasnya keinginan itu membuat gue bertanya- tanya
tentang sebenarnya apa yang mau gue lakukan ditengah-tengah hidup yang teramat
singkat ini, dan here I’am dengan
kondisi yang amat sulit ini. Saat ini memang gue sedang berusaha menuntaskan
apa yang sudah gue mulai tentang studi gue. Men gue nyesel ketika gue tahu
tentang sebenarnya-apa-yang-terjadi dan kalau inget kuliah dulu, saat ini
meskipun terlihat mustahil gue berusaha untuk meyakinkan diri bahwa gue
tetaplah Titis yang dulu and keep it
going until finish line. Dan lagi keputusan untuk tidak menikah (saat ini
dan gak tahu kalau tiba-tiba berubah) adalah keputusan yang paling bijak
menurut gue, karena akan sangat tidak fair untuk pasangan gue dan keluarganya
menerima masalah imbas dari kondisi sulit ini, gampangnya gini lah gue gak tega
nyeburin anak orang ke kolam keruh tempat gue berkubang. Itu akan amat sangat
tidak sehat untuk relasi yang bakal terbentuk, dan lagi gue gak siap untuk jadi
ibu rumahan (sorry to say but it is the
truth) hanya karena gue tiba-tiba jadi bego dan menjelma menjadi budak cinta.
Jadi gimana? Menikah gak (cuma) pake cinta kan? Menikah itu ribet pol,
makan tuh cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar