Jumat, 09 Februari 2018

Makan Tuh Cinta

“cewek matre..cewek matre..ke laut aje”
“cewek matre..cewek matre.. cewek matre gangguin cowoknye”

Orang jawa bilang katanya kalau cari jodoh harus lihat bibit bebet bobot nya, artinya kudu diruntut tuh siapa dalang dibalik keberadaan seseorang ini sampai dia bisa jadi dia yang kita temuin dan hendak kita jadikan pasangan. Ini gak salah sih, totally gak salah. Toh tanpa memandang siapapun dia ketika ditanyakan mengenai pasangan hidup pasti akan menyebutkan hal-hal baik termasuk mungkin kriteria ‘keluarga baik-baik’ merupakan salah satu keharusan dalam memilih seorang pasangan hidup.

Saat ini I have been alive almost for 30 years, dan gue single available. Yes, gue cukup blak-blakan soal status gue ini bukan untuk mencari pasangan hidup tapi untuk memperlihatkan gue cukup serius tentang relasi pernikahan karena stage ini bukan kayak sedang main rumah-rumahan, dan punya anak itu gak kayak lagi maen barbie-barbie-an (eventho gue gak pernah ngerasain punya barbie tapi gue tahu gimana rasanya role playing jadi mamak dan maen rumah-rumahan).

Dengan kondisi gue saat ini sebenarnya untuk tetap jadi wanita karir itu sungguh sangat struggling, karena kondisi badan gue sangat tidak tersetting untuk bisa berpikir cepat, mengambil keputusan dengan cepat, dan cuma didominasi perasaan dan ego. Akhirnya gue cuma mau bilang, badan dan pikiran gue ini pikiran mamak rumahan. Ets, tunggu dulu, gue gak lagi mendeskriditkan golongan ibu rumah tangga ya, ojo emosi sek. Bersyukurlah engkau wanita karir dan bersyukurlah engkau ibu-ibu rumahan karena bagianmu itu sendiri-sendiri, dan tantangan mu juga sendiri-sendiri. Kalau sekarang gue belum punya tanggungan, belum punya pasangan masak iya gue menyetting badan dan pikiran gue untuk jadi ibu rumah tangga? Buat siapa? Wong di rumah gue ada mama yang masih berperan jadi ibu rumah tangga, kalau gue? Ya jelas tersetting jadi asisten rumah tangga kalau gue menaruh pikiran dan badan gue jadi mode ibu rumahan.

Alasan inilah yang akhirnya sering bikin gue marah sama the milestone karena beliau ini sedang membunuh masa depan gue dari zaman gue sama sekali gak tahu menahu tentang apa-yang-terjadi-dengan-hidup-gue.
Kalau akhirnya gue harus nuruti mode yang disetting mak gue (nah akhirnya keluar juga tersangkanya), saat ini mungkin anak gue udah dua. Dari sejak zaman gue kuliah dimana gue punya cem-ceman sendiri, mereka ( I use these term instead of ‘tersangka’, sengaja pake bahasa inggris, supaya gak semua dari mereka bisa paham maksudnya apa) juga gak diem-diem aje soal pasangan hidup. Bakal calon yang disodorkan semua high quality menurut pandangan dia alias mapan finansial, kalau iya gue cewek matre, tanpa jurus apapun lah gue sikat dari dulu. Tapi gue justru lebih milih pake jurus ‘mlipir alus’ untuk bilang ‘sorry gue masih anak kuliahan, umur gue masih 19 tahun dan kamu sudah cukup umur untuk menikah, so segerakan saja niat tulusmu itu dengan mencari pasangan hidup yang seimbang’. Sampai sini dulu, adakah yang salah dengan sikap gue? Men, umur gue 19 tahun mak gue selalu ngomong tentang nyari jodoh dan tentang menikah usia muda. Waktu itu gue sih sama sekali gak nyangka kalau ternyata ada udang dibalik gimbal udang. Gue sama sekali gak paham emang tabu ya cewek gak nikah dan mencukupkan diri dengan pekerjaannya. Apakah selalu cewek harus menuruti kaum lelaki? Kemana itu emansipasi? Dan begonya adalah the milestone ini justru perempuan juga, mana wanita karir lagi. Duh, kemana otak lo Bu? (Biarin kasar gemes gue soalnya).

Gue sama sekali tidak mendeskriditkan justru setelah menikah hidup salah seorang dari mereka justru lebih terangkat martabatnya. Itu hal yang biasalah dan wajar, orang mana yang gak mau diangkat martabatnya. Tapi sekali lagi gue jelasin ya, menikah itu gak lagi kayak kita maen rumah-rumahan. Beda cara mencet odol aja bisa jadi masalah besar, nah ini nih yang akhirnya perlu dicermati. Menikah itu gak tentang take and give doang apalagi saling mengisi, karena memang gak lagi jual parfum refillan. Tapi tentang dua pribadi yang sudah utuh membentuk kesatuan. Kenapa harus utuh dua-duanya? Supaya ditengah perjalanan pernikahan yang katanya berliku nanti gak gampang jadi alay ataupun jablay parahnya alay yang jablay duh!
Maksudnya gimana? Dunia pernikahan itu bakal kita jalani setengah dari umur hidup kita di dunia kalau Tuhan mengizinkan. Kehidupan setelah pernikahan akhirnya tergantung dari cara kita memilih pasangan hidup apakah akan mendatangkan kerajaan surga di bumi atau justru mendatangkan kerajaan maut, dan pasangan yang baik sebenarnya-benarnya adalah pasangan yang mampu mendatangkan kerajaan surga di bumi dan itu butuh proses pergumulan dan doa yang panjang. Gak segampang nggoyang cetakan kue goyang, goyang grobag es goyang ataupun goyang aji-aji jaran goyang.

Untuk saat ini gue berani bilang, gue bisa jalani hidup gue sendirian toh akhirnya itu terbukti. Cita- cita gue untuk menikah di umur 25 sudah kandas, tapi justru dengan kandasnya keinginan itu membuat gue bertanya- tanya tentang sebenarnya apa yang mau gue lakukan ditengah-tengah hidup yang teramat singkat ini, dan here I’am dengan kondisi yang amat sulit ini. Saat ini memang gue sedang berusaha menuntaskan apa yang sudah gue mulai tentang studi gue. Men gue nyesel ketika gue tahu tentang sebenarnya-apa-yang-terjadi dan kalau inget kuliah dulu, saat ini meskipun terlihat mustahil gue berusaha untuk meyakinkan diri bahwa gue tetaplah Titis yang dulu and keep it going until finish line. Dan lagi keputusan untuk tidak menikah (saat ini dan gak tahu kalau tiba-tiba berubah) adalah keputusan yang paling bijak menurut gue, karena akan sangat tidak fair untuk pasangan gue dan keluarganya menerima masalah imbas dari kondisi sulit ini, gampangnya gini lah gue gak tega nyeburin anak orang ke kolam keruh tempat gue berkubang. Itu akan amat sangat tidak sehat untuk relasi yang bakal terbentuk, dan lagi gue gak siap untuk jadi ibu rumahan (sorry to say but it is the truth) hanya karena gue tiba-tiba jadi bego dan menjelma menjadi budak cinta.

Jadi gimana? Menikah gak (cuma) pake cinta kan? Menikah itu ribet pol, makan tuh cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar